Berpetualang Sambil Menikmati Pesona Alam Wae Rebo

Di Travelling 38 views

Wae Rebo adalah spot wisata budaya dan alam yang istimewa namun masih tersembunyi. Tidak semua orang mengenal desa Wae Rebo yang berada di pedalaman pegunungan di pulau Flores. Namun, para influencer travelling TikTok dan Instagram Indonesia sudah mulai memperkenalkan daerah ini. Wae Rebo sudah menjadi tujuan banyak orang Indonesia yang suka berpetualang, sedangkan turis asing masih belum banyak yang mengunjungi tempat ini.

Trip ke Wae Rebo, Flores

Wae Rebo terletak di pulau Flores di Indonesia, yang dapat Anda capai dengan penerbangan singkat dari Bali atau dengan penerbangan yang lebih lama dari Jakarta.

Dari Labuan Bajo, “kota” terbesar di Flores, sebenarnya hanya 70 km ke kaki gunung tempat Wae Rebo berada. Wae Rebo sendiri hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki, melalui pendakian selama 2 atau 3 jam mendaki gunung yang curam (tergantung pada tingkat kebugaran pribadi Anda).

Desa itu sendiri terletak di dataran tinggi yang dikelilingi oleh pegunungan yang tertutup hutan yang menakjubkan.

Kisah kami sendiri dengan Wae Rebo dimulai dengan perjalanan singkat ke Flores. Kami terbang ke Labuan Bajo untuk menemukan komodo, pari manta dan kehidupan laut lainnya di taman nasional yang berdekatan. Sambil minum jus dan ikan goreng di pasar malam, kami mengobrol dengan wisatawan Indonesia yang bercerita tentang Wae Rebo yang eksotis. War Rebo adalah sebuah desa yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki namun menawarkan wisata budaya yang menarik.

Cara menuju ke Wae Rebo

Satu hal lagi yang harus di ingat, jika Anda memutuskan untuk melakukan petualangan ini, Anda harus bisa mengendarai skuter dengan sangat baik. Beberapa “jalan” sering kali tidak beraspal, sangat curam, benar-benar terbuat dari batu-batu besar dengan celah besar di antara mereka atau mengarah melalui sungai.

Anda diwajibkan memiliki keterampilan mengemudi dan jangan mengemudi sendirian. Dan pastikan untuk menggunakan helm – banyak penyewaan skuter tidak akan secara otomatis meminjami Anda helm, karena pemeriksaan polisi di Flores jarang terjadi. Tapi karena jalanannya kurang memadai, memakai helm masih merupakan suatu kewajiban demi keamanan.

Dari Flores, 20 atau 30 km pertama jalan beraspal – sangat melengkung dan sempit, tetapi beraspal dan licin saat musim penghujan. Oleh karena itu kami merekomendasikan perjalanan di musim kemarau (Maret hingga September).

Ada beberapa point-of-view di gunung-gunung di atas Labuan Bajo yang bagus di mana Anda dapat melihat bagian-bagian dari Taman Nasional Komodo. Itu mungkin bisa menjadi pemberhentian foto pertama, untuk sedikit meregangkan kaki Anda, karena perjalanan ke Wae Rebo masih panjang.

Wae Rebo, Pesona Alam di Pedalaman Flores

Setelah melewati pegunungan, Anda akan tiba di pedalaman Flores yang datar. Semakin jauh Anda dari Labuan Bajo, semakin sedikit mobil yang ada. Pada titik tertentu tidak ada pom bensin, tidak ada supermarket, tidak ada warung lagi. Hanya ada sawah, rumah-rumah pertanian, sapi-sapi dan beberapa skuter.

Perjalanan kami membawa kami melintasi jembatan darurat, jalan setapak dari kayu yang goyah, melalui sungai, kaki bukit laut (kadang-kadang dibutuhkan banyak kekuatan untuk mendorong skuter naik dan turun di beberapa tempat, karena beberapa ruas jalan tidak “dapat dilalui”).

Untuk sampai ke Wae Rebo dengan skuter, ada beberapa rute – yang terbaik adalah mengunduh peta offline, karena tidak ada sinyal sel setelah titik tertentu dan tidak ada rambu-rambu jalan. Kami sarankan Anda untuk memasukkan “Dintor” atau “SDK Denge” di Google Maps. Mobil biasanya mengambil jalan ke Ruteng, yang sedikit lebih jauh. Kami memilih rute ke Dintor, yang membawa kami menyusuri laut.

Meskipun hanya sekitar 70 km (tergantung pada rute), tur skuter kami memakan waktu lebih dari 5 jam karena keadaan jalan yang kurang mendukung. Dalam kegelapan, mustahil untuk mengemudi di jalan seperti ini, dan Anda juga kemungkinan besar akan tersesat.

Penginapan Wae Rebo

Kami tiba di Wae Rebo Lodge – salah satu dari dua pilihan akomodasi di desa Dintor, di mana Anda dapat bermalam sebelum mendaki keesokan paginya. Wae Rebo Lodge terletak dengan indah di areal sawah, dan pastikan Anda melakukan charging ponsel sampai full.

Pada pukul 5.00 pagi kami bangun, sarapan nasi dan berkendara beberapa kilometer terakhir ke semacam tempat parkir dari tempat semua pendakian ke Wae Rebo dimulai.

Menuju Wae Rebo dari tempat parkir, ada satu jalan setapak yang menanjak curam melalui hutan lebat dengan anggrek, semua jenis tanaman dan hewan. Hati-hati saat hiking di jalan setapak ini, karena hewan-hewan hutan, termasuk ular, lintah, dan sejenisnya bisa mengganggu Anda.

Kami sangat menyarankan Anda untuk mengenakan celana panjang (linen), karena agak dingin di atas sana (di desa). Setelah 2 jam mendaki dan memanjat, kami mencapai titik dengan pemandangan lembah gunung, di mana atap gubuk-gubuk Wae Rebo sudah mengintip dari hutan. Momen yang sangat luar biasa dan setelah semua berkeringat dan bangun pagi-pagi, kami merasa bahwa semua usaha itu sepadan.

Tiba di desa Wae Rebo

Di depan desa itu sendiri ada papan dengan aturan yang harus memberikan petunjuk: misalnya Anda tidak boleh melakukan hal-hal asusila, tidak boleh meninggalkan sampah, dan sebagainya.

Kami disuruh menunggu di pintu masuk sampai seseorang dari desa menjemput kami. Tapi karena tidak ada yang muncul, kami langsung menuju gubuk terbesar untuk menghadap sesepuh desa.

Catatan penting: Anda tidak diperbolehkan mengambil foto sampai Anda disambut oleh tetua desa. Dia menerima donasi (kalo kami sih menganggapnya sebagai retribusi, hehehe) dan menyambut kami di Wae Rebo.

Seorang pemuda membawa kami ke gubuk lain – di sana dia menunjukkan tempat tidur kami (350.000 IDR per orang per malam) di lantai ruang bersama. Kami sedikit terkejut dengan harganya – terlebih lagi ketika kami mengetahui bahwa gubuk-gubuk itu bukanlah bangunan “original”, tetapi dibangun kembali oleh tim arsitek dari Jakarta sesuai dengan model lama.

Penduduk desa tinggal di rumah-rumah beton yang lebih kokoh sedikit lebih jauh ke atas. Tidak ada interaksi antara penduduk desa dan para wisatawan. Kami sangat terkejut dengan harga untuk menginap semalam, dan dinginnya sambutan penduduk desa.

Simpulan

Wae Rebo masih bukan destinasi wisata utama, karena akses perjalanan ke desa ini masih sangat terbatas dan belum memiliki sarana prasarana yang bisa mendukung kenyamanan wisatawan. Keindahan alam di Wae Rebo memang mengagumkan, hanya saja butuh tenaga dan biaya ekstra jika Anda ingin menuju ke desa ini.

Tags: #backpacker ke wae rebo dari jakarta #cara ke wae rebo dari jakarta #desa adat wae rebo berada di #desa adat wae rebo berada di provinsi #desa adat wae rebo berasal dari #detail wae rebo #foto wae rebo #gambar wae rebo #jurnal wae rebo #rumah adat wae rebo berasal dari #wae rebo adventure #wae rebo arsitektur #wae rebo biaya #wae rebo day trip #wae rebo dimana #wae rebo flores

Panduan Tur dan Perjalanan ke Danau Segara Anak
Panduan Tur dan Perjalanan ke Danau Segara Anak
Danau Segara Anak adalah danau kaldera dengan
Wisata Curug Malela, Konon Mirip Dengan Air Terjun Niagara!
Wisata Curug Malela, Konon Mirip Dengan Air Terjun Niagara!
Wisata Curug Malela memiliki keunikan tersendiri. Wisata
Pesona Destinasi Pantai Wediombo Gunung Kidul
Tidak akan ada habisnya jika kita membahas
Rekomendasi 10 Destinasi Untuk Berbulan Madu Yang Terbaik
Rekomendasi 10 Destinasi Untuk Berbulan Madu Yang Terbaik
10 Destinasi Untuk Berbulan Madu Yang Terbaik

Tinggalkan pesan "Berpetualang Sambil Menikmati Pesona Alam Wae Rebo"


Top